Rabu, 20 Februari 2008

sejak hujan

aku membunuh kipas pagi itu
yang terkapar dibawah kamar
disana bunga bunga menangis
dikepalamu jejak tanah dan luka menyusun
angin sore gemetar dan hujan

aku kini pemanggangan roti
yang cemas dengan sunyi
kau tau mentega itu tubuhmu
bagian yang sulit kurindu

lalu suara suara musik yang beringas
membakar kota dan kamar mandi
dan perlahan lenyap dibalik pintu
dan tertelan dihalaman televisi
halaman halaman yang ragu diratapi

sejak hujan mengguyur
aku tak melihatmu lagi
seperti tenggelam bersama gedung gedung
rumah rumah tanpa kenangan
berhembus kehilangan

aku membunuh kipas pagi itu
sejak hujan menggelepar dibawah kamar

Tidak ada komentar: