Sebuah bus pernah mendarat di sana
menyimpan tangis dan kantuk supirnya
memang berkelok dan licinnya jalan
disiram hujan seharian
sebuah bus benar-benar mendarat di sana
yang terselamatkan ingin segera ke puncak
seperti bangkit dari kubur
“rem itu nggak blong, nempel dikakiku
kondisi mesin seperti cuaca, antara topan dan badai”
tet tot tet tot tet tot
suara klakson. dan rem yang menempel
di kakinya semakin menggenang
di sana di dasar jurang, seorang yang lain,
ia masih mencari mukanya yang sedang hilang
“sepertinya mukaku masih menempel dan tertinggal
di baliho dan spanduk sepanjang jalan”
pada sopir bus, ia muntah (entah darah)
—kenapa tak kau petik spanduk itu atau balihonya sekalian—
=kakiku nempel, pantatku jok yang keras
dan bisul-bisul mulai pecah berantakan=
—aku akan naik ke puncak, disana ada jalan
di sana ada pertolongan—
=biar saja, aku sedang memotong bus berkeping-keping
tak berkesudahan seharian, jangan ganggu=
sebagian memang mati dengan jongkok, duduk,
tertindih jok, terkena pecahan kaca, meringkuk,
kaget, terbentur
entah, sepertinya mereka mulai larut
dan menyatu dengan jok, klakson, lampu, ban, setir, dan pintu
entah juga, beberapa orang dengan rusuk yang agak patah-patah
seperti bertemu dengan sunset di dasar jurang itu
sopir bus tertawa cekikikan sendirian
padahal ia mati duluan?