Jumat, 08 Oktober 2010

Payung yang Runtuh Aku Semakin Berjatuhan






bukan hujan dan gerimis kurasa
kau disana dengan payung yang runtuh
aku berteriakan bersama ketukan hujan



Kamis, 12 Februari 2009

Di Dasar Jurang

Sebuah bus pernah mendarat di sana
menyimpan tangis dan kantuk supirnya

memang berkelok dan licinnya jalan
disiram hujan seharian

sebuah bus benar-benar mendarat di sana
yang terselamatkan ingin segera ke puncak
seperti bangkit dari kubur

“rem itu nggak blong, nempel dikakiku
kondisi mesin seperti cuaca, antara topan dan badai”
tet tot tet tot tet tot
suara klakson. dan rem yang menempel
di kakinya semakin menggenang

di sana di dasar jurang, seorang yang lain,
ia masih mencari mukanya yang sedang hilang

“sepertinya mukaku masih menempel dan tertinggal
di baliho dan spanduk sepanjang jalan”

pada sopir bus, ia muntah (entah darah)
—kenapa tak kau petik spanduk itu atau balihonya sekalian—
=kakiku nempel, pantatku jok yang keras
dan bisul-bisul mulai pecah berantakan=
—aku akan naik ke puncak, disana ada jalan
di sana ada pertolongan—
=biar saja, aku sedang memotong bus berkeping-keping
tak berkesudahan seharian, jangan ganggu=

sebagian memang mati dengan jongkok, duduk,
tertindih jok, terkena pecahan kaca, meringkuk,
kaget, terbentur

entah, sepertinya mereka mulai larut
dan menyatu dengan jok, klakson, lampu, ban, setir, dan pintu

entah juga, beberapa orang dengan rusuk yang agak patah-patah
seperti bertemu dengan sunset di dasar jurang itu

sopir bus tertawa cekikikan sendirian
padahal ia mati duluan?

Rabu, 20 Februari 2008

sejak hujan

aku membunuh kipas pagi itu
yang terkapar dibawah kamar
disana bunga bunga menangis
dikepalamu jejak tanah dan luka menyusun
angin sore gemetar dan hujan

aku kini pemanggangan roti
yang cemas dengan sunyi
kau tau mentega itu tubuhmu
bagian yang sulit kurindu

lalu suara suara musik yang beringas
membakar kota dan kamar mandi
dan perlahan lenyap dibalik pintu
dan tertelan dihalaman televisi
halaman halaman yang ragu diratapi

sejak hujan mengguyur
aku tak melihatmu lagi
seperti tenggelam bersama gedung gedung
rumah rumah tanpa kenangan
berhembus kehilangan

aku membunuh kipas pagi itu
sejak hujan menggelepar dibawah kamar

Sabtu, 09 Februari 2008

meriuhkan

sebuah pintu yang membuka tubuh saya
juga baju yang sudah lama lepas
perlahan